Langsung ke konten utama

Coretan Tradisi

EKSISTENSI TRADISI NYONGKOLAN ‘ZAMAN NOW’
Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini ternyata mampu menghipnotis masyarakat Indonesia. Gaya hidup dan kebiasaan masyarakat pun perlahan berubah. Melihat realita tersebut, akankah tradisi dan budaya juga ikut berubah? Bagaimanakah keberadaan tradisi-tradisi terutama tradisi nyongkolan di dalam masyarakat Sasak?
Nyongkolan adalah salah satu tadisi lokal Suku Sasak (Lombok) yang dilakukan setelah prosesi pernikahan, di mana sepasang pengantin diiring dan dikawal keliling kampung menuju kediaman pengantin wanita.  Pasangan tersebut diiring dan dikawal dengan cara yang terhormat bagaikan sepasang raja dan permaisuri. Tujuan diiring dan dikawalnya pengantin adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa pasangan tersebut resmi menikah, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat tempat mempelai perempuan tinggal, karena bisanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan dipihak mempelai laki-laki.
Peserta yang mengiringi pengantin adalah kerabat atau keluarga dari kedua pengantin. Rombongan pengiring harus mengenakan pakaian adat Sasak dan diiringi pula oleh musik tetabuhan tradisional.
Demi mengetahui keberadaan atau eksistensi tradisi nyongkolan ‘zaman now’. Saya mencari informasi dari beberapa masyarakat Sasak mengenai tanggapan mereka terhadap tradisi nyongkolan tersebut.
Menurut Lili Andita (21 tahun), nyongkolan merupakan sebuah tradisi yang harus dilestarikan. Ia mengaku akan meyelenggarakan tradisi nyongkolan untuk melengkapi ritual pernikahannya kelak. Selain untuk melestarikan tradisi, ia beralasan bahwa nyongkolan juga dapat menghindari fitnah, karena tradisi nyongkolan bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa pasangan pengantin resmi menikah.
Salah satu mahasiswa IKIP bernama Minawan Arip (18 tahun) juga memberikan berpendapat sama. Menurutnya nyongkolan adalah tradisi yang sakral dan harus dilakukan. Berdasarkan mitos yang ia dan keluarganya percaya bahwa apabila sepasang pengantin tidak melakukan prosesi nyongkolan, maka rumah tangga pengantin tersebut tidak akan bertahan lama atau keturunannya akan terlahir tidak normal (cacat) fisik maupun mental.
Berbeda dari kedua pendapat sebelumnya. Ibu Maryati (37 tahun) melihat tradisi nyongkolan hanya sebagai tradisi yang sudah melenceng dari tradisi yang sebenarnya. “Dulu kalo nyongkolan ndak pake kecimol begini, ndak ada joget-jogetan, mabuk-mabukkan kayak sekarang. Macet-macetan juga, jadi menggangu pengguna jalan.” Pintanya.
Meskipun sudah jarang digunakan, terutama di daerah perkotaan dan telah mengalami pembaharuan dengan adanya kecimol (sebuah grup drum band yang diiringi oleh penyanyi). Eksistensi tradisi nyongkolan masih tetap diakui dan dilakukan, serta masih menjadi tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan.
Sebagai generasi penerus, kita wajib melestarikan tradisi nyongkolan dengan tetap melakukan tradisi tersbut. Jangan biarkan tradisi dan budaya yang kita miliki terkikis oleh perkembangan teknologi ‘zaman now’. Mari lestarikan dan cintai budaya dengan keasliannya.

Komentar

  1. Waah, bagus sekali artikelnya. Nanti aku juga nyongkolan juga pas nikah deh kalo gitu😂

    BalasHapus
  2. Terimaksih sllu mmbrikan info yg mnarik mbak .... 😊

    BalasHapus
  3. Semoga bisa langsung diterapkan ya min😂

    BalasHapus
  4. Wah adat yg bagus ya,wawasan tambah luas.di tunggu ya tulisan2 berikutnya yg lebih menarik

    BalasHapus
  5. Yeayy.. lamjutkan ! Semangat menulis😍

    BalasHapus
  6. Alasan perkembangan zaman yang begitu cepat di konsumsi oleh masyarakat pada umumnya, merupakan hal utama terkikisnya tradisi dan adat istiadat budaya, adanya artikel ini yang mengangkat kembali mengenai kebudayaan yg sangat jarang di lakukan lagi, serta memberikan pemahaman kembali terhadap generasi daerah yg saat ini cenderung tidak mengetahui kebudayaan daerahnya merupakan nilai yang sangat positif untuk kita semua terutama bagi saya pribadi.
    Terima kasih informasinya
    Kembangkan lagi ya nanda tulisannya, semoga lebih banyak lagi yang memperhatikan kebudayaan di NTB.

    BalasHapus
  7. great ! ditunggu artikel lainnya yaa ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mimpi apa milea komen tulisanku. Masha Allah😍😂

      Hapus
    2. Mimpi apa milea komen tulisanku. Masha Allah😍😂

      Hapus
  8. Sangat menarik sekalii artikelnya untuk di bacaa

    BalasHapus
  9. Artikelnya menarik dan dapat menambah wawasan

    BalasHapus
  10. Artikelnya menarik dan dapat menambah wawasan

    BalasHapus

Posting Komentar